Sejarah

Semarang - KKMKS. Cikal bakal KKMKS berawal dari sebuah program rehabilitasi mangrove yang dicetuskan oleh Yayasan Bina Karta Lestari (BINTARI) Semarang. Dengan fokus area kerja di daerah Tugurejo dan Tapak, bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Semarang, KeSEMaT dan dengan bantuan dana dari FoE Jepang, maka telah dilakukan upaya penyelamatan pesisir Tapak, dengan cara menanam mangrove dan membuat Alat Pemecah Gelombang (APO) selama kurun waktu 2008 - 2010.

Program bertema Project Planning on Participatory Mangrove Plantation and Management of as Adaptation to Climate Change ini, berusaha untuk mengidentifikasi permasalahan, memecahkannya dan memberikan solusi yang tepat untuk mengajak peran serta aktif masyarakat pesisir di Tugurejo membangun kembali kawasan pesisirnya yang telah rusak.

Selama dua tahun, maka program telah berhasil mengidentifikasi berbagai permasalahan yang ada, salah satunya adalah dengan pembentukan kelompok kerja mangrove untuk menjaga konsistensi dan kontinyuitas program.

Berdasarkan surat keputusan dan himbauan dari Kelompok Kerja Mangrove Nasional (KKMN) agar di beberapa daerah pesisir di Indonesia mulai dibentuk Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD), maka tim program menginisiasi terbentuknya KKMKS dengan tujuan menjembatani semua stakeholder terkait mangrove di Semarang agar bisa membentuk sebuah hubungan yang harmonis dalam rangka menyelamatkan mangrove di kawasan pesisir Semarang dan sekitarnya yang telah rusak hingga 90%.

Mulai bekerja dari tahun 2010, KKMKS telah berhasil mengadakan berbagai program dan kegiatan mangrove yang berguna dan bermanfaat untuk masyarakat pesisir di Semarang, seperti diskusi, pelatihan, kunjungan lapangan dan berbagai program penanaman dan pemeliharaan mangrove lainnya berbasis masyarakat.